Sumsel Kian Produktif: Ketahanan Pangan sebagai Pilar Ekonomi Lokal
Di posting oleh Fedro -
Senin, 12 Januari 2026 pukul 11:05
Provinsi Sumatera Selatan mencatat kenaikan produksi gabah signifikan hingga 600.000 ton pada September, menjadikannya salah satu provinsi dengan pertumbuhan ketahanan pangan terkuat di Indonesia.
Postingan Instagram HIPMI Sumsel menyoroti momentum ini sebagai bagian dari upaya kolektif memperkuat ekonomi lokal melalui sektor pangan — yang dulu dianggap “subsidi”, kini justru menjadi “peluang strategis”.
1. Kenapa Ketahanan Pangan Jadi Penting untuk Ekonomi Lokal
Sektor pangan adalah fondasi stabilitas ekonomi; ketika produksi lokal kuat, ketergantungan impor bisa ditekan.
Pertumbuhan produksi membuka peluang bagi petani, pelaku agroindustri, dan pengusaha muda untuk berperan aktif — bukan hanya sebagai pekerja, tetapi sebagai pelaku usaha.
Pertumbuhan di sektor ini juga memperkuat rantai nilai lokal: produksi → pengolahan → distribusi → pemasaran.
2. Momentum Produksi Gabah di Sumsel
Kenaikan produksi gabah sebesar 600.000 ton bukan hanya angka statistik, tapi bukti peningkatan kapasitas dan kemandirian pangan daerah.
Momentum ini membuka potensi ekonomi baru — menciptakan lapangan kerja, memperluas bisnis agro, dan memperkuat daya saing pangan lokal.
Bagi anggota HIPMI Sumsel, ini adalah sinyal kuat untuk masuk ke sektor agroindustri, pasca panen, branding pangan lokal, dan ekspor produk agrikultur.
3. Peran HIPMI Sumsel dalam Mendukung Pertumbuhan Ini
HIPMI Sumsel berperan aktif dalam mendorong lahirnya pengusaha muda di sektor pangan dengan:
Mendorong inovasi bisnis di sektor pertanian — mulai dari pengolahan, packaging, hingga digital marketing produk lokal.
Menjalin kemitraan antara petani dan pengusaha muda agar hasil panen bisa langsung dikonversi menjadi nilai tambah ekonomi.
Mengadvokasi kebijakan lokal yang mendukung pengembangan agroindustri: seperti insentif pajak, pelatihan produksi, dan digitalisasi rantai pasok pangan.
4. Tantangan yang Harus Dihadapi
Produksi meningkat, tapi kapasitas pengolahan dan penyimpanan masih terbatas — tanpa inovasi, surplus bisa menekan harga.
Infrastruktur pertanian, seperti transportasi dan cold-storage, perlu ditingkatkan.
Pengusaha muda harus berani beda — tidak hanya meniru pola lama, tapi membawa branding, digitalisasi, dan efisiensi dalam bisnis pangan lokal.
5. Peluang bagi Pengusaha Muda dan Anggota HIPMI Sumsel
Produk gabah dan turunannya bisa di-brand menjadi produk unggulan Sumsel yang dipasarkan secara nasional atau ekspor.
Digital marketing dan e-commerce pangan lokal bisa menjadi sarana memperluas jangkauan pasar.
Kolaborasi lintas sektor antara HIPMI, petani, pemerintah, dan lembaga pertanian dapat menciptakan ekosistem agroindustri modern dan berkelanjutan.
Penutup
Peningkatan produksi gabah di Sumatera Selatan bukan sekadar statistik — ini adalah peluang nyata bagi pengusaha muda untuk memperkuat ekonomi lokal berbasis pangan.
Dengan dukungan HIPMI Sumsel, generasi muda bisa menjadi bagian aktif dalam rantai ekonomi hijau dan ketahanan pangan nasional.
“Mari ubah angka menjadi aksi — produksi meningkat, nilai tambah harus tumbuh bersama.”